Bisnis Indonesia Online » Sosok
Sosok - Detail
Senin, 21/12/2009 15:07 WIB
Lebih baik mengalah
oleh :
Aprika R. Hernanda
Indonesia baru saja menggelar konferensi kelapa sawit internasional terbesar sepanjang 5 tahun terakhir. Momentum itu melegitimasi posisi negeri ini sebagai raja sawit yang memproduksi komoditas crude palm oil (CPO) terbesar di dunia.
Hampir 1.000 orang dari dalam ataupun luar negeri datang ke perhelatan yang diselenggarakan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) di Nusa Dua, Bali pada awal Desember lalu.
Di balik acara yang dinobatkan sebagai pagelaran terbesar di sektor usaha perkebunan ini, nama Nursani Mona Surya muncul ke publik sebagai ketua panitia acara besar itu.
Direktur PT Perkebunan Minanga Ogan ini memang bukan orang baru di bisnis yang lebih lekat dengan dunia laki-laki itu. Perempuan kelahiran Jakarta pada 1965 yang lebih akrab dipanggil Mona ini juga bukan orang baru di Gapki.
Setidaknya selama penyelenggaraan acara serupa sejak 2005, Mona selalu terlibat dalam struktur kepanitiaan. Hingga pada penyelenggaraan yang kelima ini, dia menjadi ketua panitia perempuan pertama yang harus bertanggung jawab mengorganisasi kegiatan besar berskala internasional tersebut.
"Ini bukan hanya kerja saya, tetapi kerja tim kami yang solid, saya bersama Pak Susanto, Pak Suryanto, Pak Freddy Widjaja, dan Pak Steven. Saya justru lebih banyak mengalah," ujarnya menyebut nama-nama mitra kerjanya yang juga sejumlah pejabat di beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit berskala besar.
Berkarier di sektor perkebunan yang didominasi kaum laki-laki, menurut ibu lima anak ini, justru menguntungkan bagi dia sebagai kaum minoritas. Sentuhan perempuan kadang membuat struktur organisasi bisa menjadi lebih baik dan saling mengisi.
Itu sebabnya Mona mengaku lebih sering memosisikan diri untuk mengalah dan memperkuat koordinasi timnya untuk menyelesaikan konflik.
Namun, istri Syah Amondaris, Vice President of Consumer Loans Group, PT Bank Mandiri Tbk, ini tidak 'kalah' dengan kaum pria dalam hal pekerjaan.
"Saya tahu bekerja di perkebunan tidak mudah. Saya juga harus siap mengawasi kebun. Setidaknya sebulan atau dua bulan sekali saya harus ke kebun," tambahnya.
Perusahaan perkebunan yang dirintis orang tuanya dan kini menjadi tanggung jawabnya memiliki sekitar 13.000 hektare lahan sawit di Sumsel.
Di tangan Mona, perusahaan ini juga tengah melebarkan sayapnya ke Kalimantan Timur dengan mengusahakan areal baru sekitar 3.300 hektare di dekat Sangatta.
Perempuan pertama
Praktisi sawit dunia pun menobatkan Mona sebagai perempuan pertama yang tampil di dunia perkelapasawitan nasional.
Sebenarnya, itu adalah garis keluarga yang mengalir di tubuh Mona yang terlahir sebagai anak pertama dari keluarga pekebun di Sumsel.
Sebagai anak pertama di keluarganya, Mona mengaku tanggung jawab pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Apalagi, lanjut dia, orangtua mengajarkannya untuk menjadi pemimpin dan mandiri.
"Saya sampai tidak boleh sekolah ke luar negeri karena bapak saya tidak mengizinkan saya sebagai anak pertama untuk jauh dari rumah. Padahal adik-adik saya semua sekolah di luar," tuturnya.
Namun, Mona tidak berkecil hati. Dia sempat mengecap pekerjaan di salah satu bank multinasional, Citibank, sebagai Senior Asisten Manager Consumer Banking. "Karier saya cukup baik di sana, tetapi daripada tergantung sama orang lain, lebih baik saya kerjakan perusahaan sendiri."
Karena itu 10 tahun lalu, dia berkomitmen untuk meneruskan bisnis keluarganya dengan mengelola perkebunan sawit di Sumsel yang telah berproduksi sekaligus mengoperasikan satu pabrik pengolahan kelapa sawit berkapasitas 60 ton per jam.
Selain berkutat di perusahaannya, Mona juga tetap aktif di organisasi Gapki yang membuatnya lebih mengenal sawit dan kompleksitas bisnisnya.
Sejak 2003, dia menjabat sekretaris Gapki dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan organisasi tersebut. "Memang karena kesibukan ini ada hal-hal yang keteteran. Yang jelas untuk anak-anak, setiap ada hari libur, saya selalu pergi dengan mereka," ujar perempuan berkacamata yang hobi traveling ini.
Beruntung, Mona memiliki suami yang mengerti kesibukannya. "Saya bertemu dia sejak dari Citibank. Jadi dia tahu betul kesibukan saya seperti apa. Suami saya sangat mendukung saya."
Tidak heran, di luar kesibukannya, Mona lebih suka menghabiskan waktu bersama empat buah hatinya, yaitu Abi Putra, Luna Ghassani, Alya Syahrani, dan Farrel Gibransyah. (aprika.hernanda@bisnis.co.id)
bisnis.com
Sosok »
Dyah Anita Prihapsari
Lebih percaya wanitaOleh: Bambang Supriyanto
Galih Nugraha Su
Dari terapi, bangkit jadi ahliOleh: Viesta Karwila Wingtyas
Sunardi Prionomurti
Berpikir positifOleh: Gita Arwana Cakti
Kristijanto
Mengawal kader baruOleh: Gita Arwana Cakt
Nursani Mona Surya
Lebih baik mengalahOleh: Aprika R. Hernanda
Megawaty Khie
Terkesan dengan orang daerahOleh: Roni Yunianto
Daniel Mananta
Kenalkan budaya IndonesiaOleh: Reni Efita Hendry
Ary Mercyanto
Menjadi agen perubahanOleh: Noerma Komalasari
Nadine Chandrawinata
Gali bakat anak autismeOleh: Reni Efita Hendry