Bisnis Indonesia Online » Kolom



Kolom - Detail

Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Senin, 11/01/2010 13:26 WIB

Mampukah kita membuat film animasi berkualitas dunia?

oleh : Aditya
Creative Director of DreamARCH Animation

Pasti Anda sudah sering menyaksikan film-film layar lebar buatan Hollywood, seperti akhir-akhir ini hampir secara beruntun dan tanpa jeda, dari pertengahan tahun 2009 sampai awal 2010, kita dihebohkan oleh beberapa film yang membuat semua orang di seluruh dunia penasaran, mulai dari kemunculan film sekuel Transformers (Revenge of the Fallen), 2012 hingga film Avatar.  

Untuk menyaksikan film-film tersebut, orang rela antri berjam-jam sejak dari pagi hingga sore hari untuk membeli tiket, saling berdesak-desakkan hingga rela membeli tiket dengan harga mahal dari para calo karena kehabisan tiket di loket bioskop.

Di saat menonton, kita tak henti-hentinya menggeleng-gelengkan kepala karena takjub menyaksikan betapa nyatanya semua efek visual yang disajikan di depan mata sehingga seperti sebuah realita yang memang benar-benar ada dan nyata.

Film-film tersebut merupakan penggabungan antara live shoot (syuting langsung) dengan CGI/Computer Generated Imagery (rekayasa animasi). Belum lagi beberapa film-film full animasi (animasi penuh, tanpa ada penggabungan dengan live shoot) buatan Hollywood lainnya yang mengundang kelucuan dan kekaguman kita saat menontonnya, misalnya film animasi Kungfu Panda (2008), Ratatouielle (2007) dan The Cars (2004).

Dapat dipastikan, di masa-masa mendatang, kita akan terus menyaksikan bagaimana kecanggihan teknologi animasi dalam industri film layar lebar Hollywood akan semakin bergerak maju dan melampaui batas-batas imajinasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Jika para sineas dan animator Hollywood telah semakin jauh berlari memajukan industri film layar lebar animasinya, pertanyaannya bagaimana para sineas dan animator Indonesia? Mampukah mereka membuat film animasi layar lebar sehebat film tadi.

Mungkin, untuk saat ini kita belum bisa membuat animasi secanggih animasi dan visual effect (fx) seperti dalam film Transformers atau Avatar. Tetapi sebenarnya kita pun telah mampu membuat film-film animasi layar lebar yang mendekati film-film layar lebar kreasi Hollywood. Sebut saja diantaranya, film animasi Meraih Mimpi (rilis tahun 2009) yang dikerjakan hampir sekitar 80-90% animator-animator Indonesia. Film ini berisikan full animasi, mirip dengan film animasi Shrek (2001), Toy Story (1995) atau The Incredibles (2004). Selain itu, kita juga pernah membuat film layar lebar yang menggabungkan live shoot dengan CGI (animasi) seperti misalnya film Janus Prajurit Terakhir (rilis tahun 2003).

Untuk mampu membuat dan menghasilkan film-film animasi berkualitas seperti yang ditunjukkan oleh industri film Hollywood, sangat ditunjang oleh berbagai faktor yang saling mendukung, yakni :

Pertama-kesadaran akan penting dan dibutuhkannya film-film animasi sebagai media dan sarana yang mampu memberikan hiburan serta memiliki nilai komersil yang sangat tinggi bila dapat diolah, dikembangkan dan dikemas dengan baik.

Kedua-potensi pasar yang menyukai produk-produk film-film animasi yang lucu, menghibur dan memberikan inspirasi maupun motivasi saat menyaksikannya.

Ketiga-munculnya banyak studio animasi karena melihat film-film animasi telah menjadi kebutuhan yang sangat ditunggu dan dinanti oleh pasar.

Keempat-menumbuhkan minat dan antusias publik termasuk anak-anak muda sebagai motor penggerak untuk mempelajari pembuatan film animasi, diantaranya melalui ajang roadshow, dan lainnya.

Kelima-munculnya berbagai institusi pendidikan formal (sekolah) dan non formal (kursus) dalam menampung kebutuhan dan minat dari mereka-mereka yang ingin mempelajari proses produksi film animasi.

Keenam-gencarnya pemberitaan media seperti media cetak (koran, tabloid, majalah), media televisi serta radio yang menampilkan dan memberitakan film-film animasi.

Ketujuh-bantuan moril maupun materil bagi berkembangnya industri film animasi. Bantuan moril dapat diberikan dalam wujud dukungan dengan pemberian berbagai kebijakan dan regulasi serta kemudahan-kemudahan bagi para pelaku industri film animasi dalam mengembangkan bisnis dan industri film animasi animasi di pusat maupun di daerah.

Kedelapan-semakin banyak bermunculan komunitas-komunitas film animasi dalam berbagai bentuk pertemuan, media virtual dan jejaring sosial di dunia maya.

Kesembilan-menjamurnya event-event tentang animasi sebagai media bagi masyarakat dalam mengakses informasi-informasi tentang film animasi serta menjadi ajang bertemunya berbagai stakeholder yang bergerak dalam lingkup animasi. Berbagai event seperti seminar, workshop, pameran, expo animasi akan menghidupkan industri animasi.

Kesepuluh-dukungan dari berbagai sektor dan industri pendukung lainnya yang turut mendorong kemajuan industri film animasi, seperti industri game, musik, merchandise (souvenir/pernak-pernik), advertising dan percetakan, broadcast, penerbitan buku-buku animasi.


Saat ini, sebenarnya tanda-tanda muncul dan berkembangnya industri film animasi di tanah air sudah mulai terlihat. Ada beberapa faktor pendukung kemajuan industri film animasi layar lebar di tanah air ini, yakni:

Satu-banyaknya potensi SDM dari anak-anak muda yang kita miliki. SDM ini akan terus bermunculan dan semakin terus bertambah. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya SDM yang telah bekerja di studio-studio animasi berskala lokal maupun global, dimana mereka bekerja mandiri melalui usahanya sendiri atau melalui bantuan media online (internet), dan sebagainya.

Dua-kita memiliki track record (rekam jejak) yang sangat baik dalam mengerjakan pembuatan film-film serial animasi berskala internasional yang tayang di televisi, yakni menjadi tenaga-tenaga outsouce (alih kerja) dalam pembuatan film-film animasi dunia, khususnya animasi atau anime dari Jepang seperti Doraemon, Dragon Ballz dan beberapa lainnya.

Tiga-kita telah mempunyai beberapa karya film pendek atau serial animasi yang sangat beragam dan variatif serta sedang tayang saat ini di TV-TV tanah air, diantaranya serial animasi televisi Kabayan, Lip Lap (buatan Castle Production-Jakarta/Jkt), Catatan Dian (Kdeep Animation Studio-Malang), dan beberapa lainnya.

Empat-telah mulai banyak bermunculan studio-studio pembuat film animasi di tanah air. Studio-studio ini banyak membuat film animasi berdurasi pendek, namun ada juga yang membuatnya berdurasi panjang. Sebut saja studio Kasatmata di kota Yogyakarta, studio ini pernah menghasilkan film animasi pendek berjudul Kelolodhen serta film animasi panjang berjudul Homeland (2004).

Ada juga studio animasi Red Rocket Animation di Bandung, studio ini pernah membuat serial film animasi pendek dan tayang di televisi tanah air. Beberapa judul film-film serialnya al.Dongeng Aku dan Kau, Si Kurus dan Si Macan serta lainnya (awal tahun 2000).

Beberapa studio animasi lainnya di Indonesia, al. Castle Production (Jkt), ePIX fx Studio (Jkt), Mirage (Jkt), Main Motions Studio (Jkt), Kdeep Animation Studio (Malang), Mocca Post (Jkt), dan beberapa lainnya.

Lima-karya-karya film pendek animasi kita telah banyak meraih penghargaan dalam berbagai festival dan kompetisi animasi tingkat dunia. Salah satunya nama Wahyu Aditya, seorang animator berbakat Indonesia yang telah banyak meraih penghargaan tingkat dunia untuk film-film animasi karyanya (www.hellomotion.com).


Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Kolom »

  • Apa yang bisa dibuat dengan 3D?

    Aditya
    Creative Director of DreamARCH Animation

  • Perak bisa sekemilau emas

    Eko Endarto
    Independent Financial Planner Finansia Consulting-Jakarta

  • Falsafah pemimpin

    A. M. Lilik Agung
    Trainer dan Pembicara Publik. Mitra Pengelola High Leap Consulting

  • Peluang kerja SDM TI

    Eko Purwanto
    CEO WEBMEDIA Training Center

Komentar

Beri Komentar
















BISNIS INDONESIA

Hak Cipta © 2007 - 2010 - PT Jurnalindo Aksara Grafika