Bisnis Indonesia Online » Industri » Agribisnis


Jumat, 19/03/2010 16:38 WIB

Pengusaha diminta tak takut ancaman boikot CPO

oleh : Sumatrabisnis.com

MEDAN (Bisnis.com): Kadin dan Gapki Sumut mengajak pengusaha CPO tidak khawatir terhadap ancaman boikot pembelian minyak sawit mentah itu karena produk tersebut masih dibutuhkan dan Indonesia masih jadi produsen/pengekspor utama.

"Tidak gampang memutuskam hubungan kerja sama perdagangan karena saling membutuhkan," kata Ketua Kadin Sumut, Irfan Mutyara, di Medan, hari ini

Nestle, misalnya, membutuhkan pasar berbagai produknya di Indonesia yang pasarnya sangat besar.

PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk dan perusahaan ekspor CPO lainnya sudah pasti membutuhkan pembeli seperti Nestle dan Unilever.

"Kalau pembeli memboikot, eksportir juga bisa memboikot tidak usah menjual lagi termasuk mengajak konsumen di dalam negeri memboikot produk yang dihasilkan pabrikan," katanya.

Sementara itu, Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut, Laksamana Adiyaksa, mengtakan pemerintah harus ikut menjadi mediator dalam soal kasus pemboikotan CPO yang untuk keberapa kalinya.

"Pemerintah harus juga membantu menghapus kesan negatif CPO Indonesia di pasar internasional," katanya.

Dia menegaskan, produsen minyak sawit dalam negeri sudah semakin memperhatikan aspek lingkungan hidup dalam proses produksinya.

Apalagi, Indonesia sudah masuk dalam sistem Roundtable Sustainable on Palm Oil (RSPO).

Pemutusan kontrak yang disinyalir setelah aksi demonstrasi para aktivis dari Green Peace di kantor pusat Nestle dan juga pabriknya di Inggris, Jerman, dan Belanda itu harus diselesaikan secara hukum bisnis, katanya.

"Saya rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam aksus Nestle, apalagi harga jual CPO tidak atau belum terpengaruh atau masih stabil di kisaran US$800 per metrik ton," katanya.

Sangat disayangkan apabila kontrak diputus hanya berdasarkan laporan LSM tanpa klarifikasi yang berimbang apalagi Sinar Mas, Nestle dan Unilever sama-sama anggota RSPO.

"Seharusnya bisa menggunakan forum untuk mendiskusikan masalah," kata Laksamana. (ant)

bisnis.com

Berita Lain

  • Kasus lahan hambat kinerja PTPN II
  • Peternak ayam Medan sulit dapatkan bibit ayam
  • Petani sawit tolak moratorium kehutanan
  • Penyaluran pupuk bersubsidi Bengkulu baru 40%

Komentar

Beri Komentar
















BISNIS INDONESIA

Hak Cipta © 2007 - 2010 - PT Jurnalindo Aksara Grafika